Yang Lama dari Proses Menjadi Lebih Baik

Yang Lama dari Proses Menjadi Lebih Baik


Yang lama dari proses membaca buku adalah bukan membacanya. namun mencernanya, memilah mana yang manfaat atau mendukung rencana tujuan kita, lalu mempraktekkannya-mengaplikasikannya dalam kehidupan kita sehari-hari. 

Terlalu banyak buku yang aku baca dulu. baca tanpa berpikir, hanya baca. Menuruti rasa tampak keren karena sudah baca beberapa buku dalam satu waktu. Lalu sekian waktu kemudian aku lupa pernah baca buku tersebut. Sekian waktu kemudian aku gagal dalam sesuatu hal yang sebenarnya sudah pernah diperingatkan oleh buku yang pernah aku baca. Aku gagal seakan-akan aku tidak pernah membaca buku petunjuknya.

Dari situ aku menyadari bahwa selama ini aku cuma sekedar kebut-kebutan membaca. Aku tidak berkomitmen mempelajari dan mengaplikasikan hal yang aku anggap baik. Padahal aku berbagi manfaat dari isi buku itu, aku menceritakannya ke orang-orang agar orang-orang terinspirasi dan menjadi lebih baik. Namun waktu itu aku gagal untuk diriku sendiri.

Lalu aku merasa sia-sia sudah rajin membaca. Lalu aku malas membaca. sekian tahun ku hanya rajin membeli buku tanpa rajin membaca.

Kecanduan belanja tanpa membuka buku apalagi membaca apalagi mencerna apalagi mempraktekkannya. istriku protes begitu banyak buku kubeli bertahun masih bersampul plastik. 

Mulai Membaca Lagi

Beberapa waktu ini entah kenapa aku jadi ingin membaca lagi. dan aku memulainya dari satu buku joe dispenza. aku membacanya berminggu-minggu. Aku membaca dan memberi kesempatan untuk pikiran benak hatiku memahaminya, merasakannya, menjadi paham dan mempraktekkannya. Joe dispenza menghubungkan benang-benang merah banyak tanyaku selama ini perihal nasib, keberuntungan, cara sukses, trauma, kegagalan berulang, dan lain sebagainya.

Lalu aku menyusun kesadaran dalam benakku. misal 2 kesadaran berikut ini:

Aku tidak menyelesaikan kuliahku. aku gagal untuk urusan itu. yang gagal hanya urusan kuliahku, namun urusan hidupku yang lain sukses. yang gagal hanya kuliahku, hidupku sukses. kegagalan kuliahku di usia 20an tidak mencerminkan keseluruhan hidupku saat ini. buktinya aku saat ini mempekerjakan anak S2. ITB lagi.

Aku tidak mendapatkan dinamo yang aku mau waktu SD, namun aku mendapatkan banyak hal termasuk dinamo setelah lebih dewasa usiaku. yang tidak mendapatkan hanya yohan waktu sd, yohan waktu smp sma kuliah dan setelahnya banyak mendapatkan apa yang dia inginkan.

Dua paragraf narasi diatas adalah bentuk pernyataan untuk memutus kegagalan berpola, emosi negatif dari kejadian-kejadian di masa lalu. ya, itu pemahaman dan praktekku.

Tugasku sekarang adalah mengamati pikiranku dan rasaku lalu membuang rasa-rasa yang tak perlu, makna yang tidak memberdayakan yang hari ini tidak aku butuhkan untuk hidup lebih baik. 

Pelajaran-pelajaran sejenis ini sudah pernah aku dapatkan sejak 2005 namun tidak benar aku laksanakan. Aku menceramahi semua orang, mengajarkan, namun tidak aku praktekkan untuk diriku sendiri. Walau pada jaman itu nilai pelatihannya 2,5juta. 

Semoga hari ini kita semua menjadi lebih baik daripada hari kemaren.


Pekanbaru
suatu siang dihari jumat
excelso, mall ska

Posting Komentar untuk "Yang Lama dari Proses Menjadi Lebih Baik"