Boleh Menang, Jangan Kalah

Boleh Menang, Jangan Kalah


"Pergio... Pulang, jangan kalah," Kata istriku

"Aku gapapa kamu tinggal, tak hadapi semua disini, tapi rasane itu kalau kamu kalah, gagal disana, maka semua yang tak perjuangkan disini, jadinya sia-sia," Tambah istriku

Aku terdiam. Benak dan pikirku sedang membangun sesuatu. Suatu keyakinan: semestinya aku tak terkalahkan. 

Pasukanku kecil, cuma terdiri dari 5 orang, impianku besar, kapasitas kami dibawah rata-rata. Setidaknya jauh dibawah rata-rata SDM yang kuharapkan kubutuhkan untuk terbang. 

Berarti kapasitasku harus mampu membelah lautan menggunakan rumput. 

Sudah lebih dari satu tahun ini menyusuri jalan-jalan panjang menjemput dan membangun kehidupan yang lebih baik. Sahabat lama memberi kesempatan untuk membangun channel pemasaran baru yang tampaknya masih mentok mengandalkan satu channel itu saja. 

Kami coba berbagai hal, dari reseller, dropshipper, affiliate, b2b, partnership, dan lain sebagainya.

Kugedor langit berkali namun tampaknya tangan kecilku tak mampu menggoyahkan arah angin.

"Daddy, pulang" kata Bumi, anakku 4 tahun, via video call pada suatu waktu di tiga mingguku belum pulang ke rumah. 

Disisi yang lain rasa belum menang, belum mencapai tujuan, membuatku ingin menemui lebih banyak orang di perantauan; namun anak-anakku juga rindu-apalagi aku.

Tuhan, setidaknya jika kemenangan ini bukan untukku, setidaknya untuk mereka. Keluargaku.

"Pijar ga cocok di sekolah yang kemaren. Dia ga mau menulis dan kesulitan dengan test bahasa indonesia. Mestinya sekolah internasional" kata istriku via telp.

Ya, anakku Pijar Langit 

"Masukkan aja, sisanya urusanku"

Posting Komentar untuk "Boleh Menang, Jangan Kalah"