Perjalanan

Aku menemukan diriku pada perjalanan-perjalanan penugasan kantorku. Bali – Jakarta – Padang – Payakumbuh – Batu Sangkar – Padang Panjang – Makassar – dan masih banyak lagi nantinya. Ada rencana mengunjungi 140 toko kecantikan di Jawa dan Sulawesi.

Antara satu urusan dan urusan yang lain menyisakan waktu demi waktu yang jika ku tidak memanfaatkannya dengan baik, maka hanya jadi waktu yang menjemukan untuk menunggu; sia-sia.

Kadang menunggu 15 menit kali beberapa kali tiap hari dan berminggu-minggu di jalan, sayang sekali jika hanya dipakai untuk bengong. Maka ku mulai mengisinya dengan beberapa buku.

Ada sebuah buku yang bercerita tentang bahwa kita semua itu hanyalah sebuah energi 99% dan sisanya adalah material. Maka karena dasarnya energi, maka atensi kita terhadap sesuatu lah yang menggerakkan segala sesuatu nasib dan kejadian. Maka dari itu jika ada dua orang melakukan hal yang sama mengejar kesuksesan dengan cara yang kurang lebih sama, bisa jadi hasil suksesnya berbeda. Karena ada energi lain yang bergerak selain cuma tehnik-tehnik sukses yang dilakukan.

Perjalanan Bisnis


Pekerjaanku adalah…

Pekerjaanku adalah membuka peluang business center untuk perusahaan dimana aku bekerja di kota-kota. Bisnis perusahaan ini sudah berjalan 7 tahun dengan sistem pemasaran online. Sudah waktunya menyentuh sisi offline. Seperti unilever dan mayora yang jualan offline. Kita ingin memulainya.

Dalam perjalanan ini aku bertemu dengan berbagai orang yang memperkaya hubungan serta persahabatanku. Budaya dan pola pikir beragam. Aku pikir aku cukup beruntung yang mendapatkan tugas untuk keliling. 

Kesempatan untuk…

Diantara waktu-waktu itu pula aku punya kesempatan untuk mengenal diriku sendiri. Selama ini aku mencoba berbicara dengan semua orang, mempengaruhi orang lain agar setuju dengan pendapatku dan membeli produkku. Maka kini aku punya banyak kesempatan untuk ngobrol dengan diriku sendiri, mengenal diriku, menjawab resah tanyanya, mencari jawaban-jawaban.

Perjalanan ke dalam memang kadang sungguh menakjubkan. 

Aku jadi tahu kenapa bisnisku sendiri beberapa gagal. Karena alam bawah sadarku mengcopas dengan kuliahku yang juga gagal. Maka aku mencanangkan bahwa yang gagal itu kuliahku, hidupku berhasil.

Sejak itu ada kelegaan tersendiri di benak.

Sekolah anak-anakku…

Pijar waktunya sekolah. Kapan itu aku antar ke TNH Mojokerto. Bersama istri dan Bumi aku ajak ke sekolah itu. Dan tampaknya ga terlalu cocok. Anakku kesulitan beradaptasi. Akhirnya istriku membawa ke sekolah lain. Yang ini lebih cocok.

Yang agak ga cocok biayanya. TNH cuma 10 juta. Sekolah Islam ini minta 25 juta. 

“Bisa dicicil?” tanyaku ke istriku. “Biasanya bisa” jawab istriku yang dulu pernah mengajar di sekolah-sekolah semacam itu.

Aku jadi bisa tahu rasa ayahku saat memaksakan diri menyekolahkan anaknya di Ubaya. Agar anak-anaknya lebih baik hidupnya ketimbang dirinya. Dan aku cukup mengecewakannya, aku ga lulus.


Hotel Padang
Room 14
22 Januari 2024

Posting Komentar untuk "Perjalanan"