Citra Diri

.

.


[ CITRA DIRI ]


"Bro, citra dirimu apa?" Tanya bosku dulu.

"Ga tau", jawabku.

Lalu kami terlibat dalam diskusi-diskusi panjang. Berat memang berdiskusi dengan orang yang memiliki citra diri sebagai ‘anak Tuhan yang bijaksana’. Dia punya banyak pemikiran-pemikiran yang tidak umum. Setidaknya bagiku pemikirannya ga umum. Aku yang anak ibuku. Yang mungkin beda dengan anak Tuhan.


Setidaknya dia sudah beribu-ribu kilometer lebih tajir kalo memang tujuan hidup hanya untuk akumulasi uang cash di rekening. Dia sudah berhasil.

Dan dia tampak bahagia. Dia cuma tak tampak bahagia saat omset perusahaannya sisa 100 miliar perbulan.

Aku pun bahagia walau tak sementereng rekening dia rekeningku. Banyak hal yang kudapatkan yang dia ga punya, demikian juga sebaliknya. Dia banyakan menang seh.

...

Dulu baca Kahlil Gibran 20 tahun lalu mungkin aku baca, kira-kira bilang: “Aku malu kalo aku bilang sabar (tidak melawan), padahal sebenarnya aku takut”

Apa ya citra diriku?

Gemuk menawan?

Tiba-tiba kok ngerasa mual.

Sebentar.

Ini harus didialogkan dulu. Aku menganggap diriku ini siapa bagaimana apa? Aku Yohan Wibisono, lalu?

Makanku banyak? Oke. Lalu?

Ah,

Ya Tuhan, aku harus mengenaliku lebih baik.

Yohan Wibisono adalah anak ayah ibuku yang…

Seorang pemikir yang sedang mencoba jadi penulis. Trus? Eh,

Pemikir? Apa ya sering mikir; wong sering ketipu karena keputusan-keputusan yang ga mikir. Pake perasaan tok dalam mengambil keputusan.

Penulis? Lah wong baru sekarang belajar nulis. Nulis juga baru 37 halaman (waktu tulisan ini sedang ditulis) (Sekarang tulisan dipindah ke blog)

Pembaca? Halah, banyak buku-buku kebeli belum kebaca

Solusi, problem solver? Kan banyak teman-teman relasi datang minta nasehat/solusi padaku?

Sebentar-sebentar. Gimana aku bisa mendefinisikan bahwa itu ‘banyak’? Atas dasar apa aku bisa bilang aku banyak kasih solusi? Kalo yang lain dan semua orang ada yang kasih solusi lebih banyak kan ya sama aja.

Nanti aja ya, kalo dah nemu, aku bahas di bab lain. Ini perlu kontemplasi. Aku ini siapa siapa bagaimana?

Apa citra diriku?

Aku ini paling ga suka kalo…; pernah dengar orang ngomong gitu? Ya itu salah satu bagian dari citra diri dia.

Aku ini paling suka…; ya itu juga.

Sip?


Beberapa orang, eh maksudku semua orang memiliki citra diri. Apa yang dia anggap perihal dirinya. Secara sadar maupun tidak sadar.

Aku merasa ini aku, atau ini keputusan yang ditanamkan ayah ibuku pada aku. Jadi ini sebenarnya bukan aku.

Misal, untuk kaya harus rajin.

Dalam sebuah kondisi dia sedang tidak rajin, dia ‘menolak’ kekayaan.

Kira-kira gitu.

Citra diri berkembang menjadi nilai-nilai yang kita anut. Yang kita yakini.

Juara. Aku Juara. Juara apa? Juara makan? Iya makan. Sebentar aku share perihal yang diajarkan ex bosku padaku. Ini misal :

Yohan Wibisono

Citra Diri : anak mama

Masuk sexiest Man alive (wow!) (uhuk) pendarahan…

Manusia mencitrakan dirinya sebagai apa secara sadar dan alam bawah sadar disatu sisi lalu disisi lain dia ingin mencapai sesuatu (impian). Disisi yang lain juga dia punya seperangkat keyakinan (believe system)


Ex bosku bilang, kamu harus memikirkan ulang hidupmu, keyakinan-keyakinanmu. Buat semuanya searah. Tidak saling bertentangan.

Contoh maksudnya; kalo dulu kala kamu anti MLM, lalu hari ini kamu jalani MLM untuk sukses; maka kamu perlu ‘pergi’ ke masa lalumu dan berdialoglah dengan dirimu yang dulu. Bahaslah, jelaskan pada dirimu yang dulu perihal MLM yang hari ini kenapa kamu jalani dan bagaimana-bagaimananya.

Agar tak tersabotase oleh dirimu sendiri.

Kalo menurut alam bawah sadarmu jualan mahal itu dosa; lalu kamu jualan barang mahal; aku ga yakin kamu bisa jual banyak. Atau semakin kamu jual banyak semakin hampa. Ya kurang lebih bagitu.

Dulu aku tidak bisa membedakan antara aku dan orang-orang yang aku sayangi. Aku sakit saat mereka sakit. Sehingga aku berusaha untuk turut menghadapinya juga. Karena aku turut merasakannya. Padahal beberapa jenis sakit bisa jadi adalah:

Bagian dari keputusan mereka sendiri yang mereka harus terima konsekuensinya karena tidak mau atau tidak berani mengambil keputusan lain

Bagian dari kepentingan Tuhan untuk :

Menguji kesabaran mungkin

Meningkatkan level apalah gitu. Misal dipromosikan bakal masuk surga


Mereka sakit dan mereka menikmati sakitnya. Mereka sakit kecil yang aku tampak, faktanya itu better daripada sakit besar dengan keputusan berbeda. 

Jadi aku ikut marah pada yang melukai ikut merasakan semua perih ikut protes ke Tuhan. Wes pokok e klop. Sampai aku tak bisa membedakan antara aku dan mereka. Sampai banyak kegagalan-kegagalan sejenis aku makan. Sampai aku beberapa kali fail berpasangan resmi, eh.

Sampai ketemu terapis yang beresin.

  • Aku adalah aku, aku yang bukan mereka.
  • Yohan Wibisono mampu melakukan A
  • Yohan Wibisono mampu melakukan B
  • Yang menderita adalah : mereka. Dan mereka berkenan atas penderitaannya itu.
  • Yang ga ikhlas adalah mereka. Bukan Yohan Wibisono.

Ya sekarang mendinganlah.


I Love You


KESIMPULAN

1. Boleh bersimpati, namun jangan menduplikasi penderitaannya

Posting Komentar untuk "Citra Diri"