4 Anak

.

.


[ 4 ANAK ]


Aku aku, 4 anak, produktif. Aku suka bidang jualan, meningkatkan penjualan, strategi baru, konseptual berpikir, narasi-narasi powerful yang bisa buat orang bergerak menuju ke hidup lebih baik. Biasanya aku kasih nama : narasi pamungkas.

Beberapa orang datang, curhat, lalu minta pendapat. Kebanyakan tidak punya masalah, mereka hanya butuh bicara. Karena lingkungannya tidak mengajaknya bicara. Atau tidak memberi kesempatan untuk dia bicara dengan tema yang dia bicarakan denganku. Atau lingkungannya menolak ide versi dia.

Banyak yang lain juga datang dalam masalah. Cerita. Kudengarkan. Kuterjemahkan jawaban-jawaban dalam benakku melalui lisan. Mereka pulang. Beberapa waktu kemudian mereka datang ngasih ber-MM. Makasih Mas.

Anakku 4, namun tidak semudah itu aku mengomunikasikan ide-ideku seperti aku mengomunikasikan ide-ideku pada mereka-mereka yang berdatangan padaku. Entah.


Tapi aku tetap berusaha. Sedang berproses.

Aku banyak membaca. Mungkin tidak sebanyak itu. Tapi bisa jadi banyak kalau dilihat dari sejarah aku SD SMP SMA selalu rangking belakang. Pada suatu hari yang entah. Tiba-tiba aku banyak membaca. Melebihi semua buku-buku SD SMP SMA KULIAH dijadikan satu.

Anak-anakku sedang aku upayakan untuk rajin membaca. Mereka tidak perlu mengenyam pemaksaan hafalan nama-nama menteri dan berapa tinggi tiang bulu tangkis. Biar mereka rajin membaca. Yang mereka sukai. Lalu bergeser pada membaca yang mereka butuhkan.

Diantara anak-anakku saat tulisan ini ditulis ada duo jagoan berusia 10 bulan dan 2 tahun. Bumi dan Langit namanya. Kapasitas mereka untuk mengambil alih perhatian kami cukup bagus. Dan melelahkan. Si 2 tahun yang suka main HP harus langsung 2 atau 3 HP sekaligus dioperasionalkan, atau si 10 bulan yang suka memakan apapun yang bukan makanan.

Alhamdulillah saat tulisan ini ditulis pembantu pulang dan kuberi isyarat untuk jangan kembali. Menulis seperti ini terkadang penuh perjuangan. Panggilan-panggilan dari istri dan anak yang membutuhkan bantuan terkadang silih berganti. Awal-awal sempat bete atas ketidakmengertian mereka bahwa ku butuh konsentrasi. List to do didepan laptop ini tidak sesederhana itu ketika lagi seru-serunya melakukan sesuatu, dipanggil, trus balik lagi, momentum mood kerjanya untuk melanjutkan kadang cukup tergagap. 

Apalagi kalo sudah ingat tagihan-tagihan itu. Wah, 

Sampai tadi pagi saat duduk di belakang menemani Bumi yang bermain di karpet rumput gadungan warna hijau itu. Terlintas pikiran. Aku ini kerjanya sama Gusti Allah saja.

Ada orang-orang diluar sana yang mendedikasikan hidupnya untuk bekerja, atau diperintah bekerja melayani orang banyak yang sampai berhari-hari ga pulang rumah. Ada orang yang kerjanya disuruh dirumah saja periksa transferan masuk lalu transfer kemana lagi gitu. Ada yang hidupnya disuruh ngurusi keluarganya tok lalu rejeki entah dari mana saja datangnya tiba-tiba tercukupi saja.

Aku melihat ayahku sebagai PNS berangkat pagi pulang menjelang malam setiap hari mungkin itu yang menciptakan ‘rasa bersalah’ atau rasa kurang nyaman kalau aku boleh bekerja dengan cara yang berbeda. Bahwa aku boleh ga harus gitu dan biarlah rejekinya datang-datang sebanyak-banyaknya.

Lalu terlintas lagi dan pengambilan keputusan baru, bahwa :

  • Aku ini kerjanya terserah sama Gusti Allah saat itu aku dikasih kerjaan apa
  • Kerja ngurusin keluarga
  • Kerja ngurusin member
  • Kerja ngurusin teman
  • Kerja ngurusin yang lain-lain
  • Pokok beneran dikerjain. 

Toh rejeki masuk bukan karena pekerjaan yang tuntas atau tidak tuntas aku kerjakan. Rejeki masuk karena keputusanNya. Yang Maha Mencukupi.


I Love You


KESIMPULAN

Sabar itu perjalanan

Posting Komentar untuk "4 Anak"