Pak Bagio | Karena Allah Jadi Cukup

.

.


[ PAK BAGIO ]


Pak Bagio adalah guru silatku dulu. Di Besuki, Situbondo. Desa kelahiran ayahku. Beberapa waktu yang lalu aku belajar beberapa gerakan pada beliau. 

Langkah-langkah, kuda-kuda, pukulan-pukulan, tendangan-tendangan, dan cerita-cerita kisah pelaku silat sebelumnya.


Aku dicekoki berbagai beladiri oleh ayahku. Pernah pada suatu periode belajar 3 jenis karate sekaligus yang salah satunya privat belajar di rumah. Diajar khusus oleh teman ayahku. Sampai pada suatu saat kebutuhan untuk berpenghasilan membuatku tidak aktif lagi berlatih. Efeknya, badan melar. Bermutasi.

Kisaran 2005 aku belajar lagi. Privat 2 minggu mungkin kalo ga salah ingat. BB tetap naik 5kg. Karena setiap selesai latihan langsung balas dendam dengan makan mendinosaurus buta (lebih besar daripada membabi buta). 


Hidangan eyang Besuki yang bebas makan tanpa nasi jika mau. Yang menunya selalu berubah antara pagi siang dan malam.

Entah bela diri itu aku, atau sesuatu yang bukan aku yang dipasangkan padaku sehingga aku merasa beladiri adalah bagian dari aku. Faktanya tak pernah permanen. Tidak hidup dari situ, tidak berjaya dari situ pula. Bercita-cita menguasai jenis bela diri tertentu dan masih sebatas cita-cita sampai tulisan ini ditulis.


Beberapa hari yang lalu (saat tulisan ini ditulis 10 Desember 2019) kita (aku dan pak Bagio) ngobrol-ngobrol dipos kamling rumah Om Jayus. 

Kita bahas lagi jurus-jurus silat dan sebagian perihal tani. Aku tak punya pembahasan lain awalnya selain silat. Aku pikir berusaha menyesuaikan tema pembicaraan dengan teman bicara itu better. Selanjutnya bahas tani.

Kenapa kok petani tidak jual sendiri hasil taninya? Kenapa harus ditebaskan ke orang lain? Sampai berapa untungnya main tebasan jagung? Berapa cost tani per hektar? Dan jenis2 pertanyaan awam lainnya.


Sampai beliau menyampaikan hitungannya:

“Petani-petani itu walau sawah lahan sendiri, dihitung-hitung ga akan cukup. Apalagi kalo sampai pemerintah impor jagung, wah wah. Ga masuk hitungan Om” 

Kata beliau sambil pegang kepala. Kepalanya dia sendiri. Bukan kepalaku. Lagian kenapa dia harus pegang kepalaku? Yang ga habis pikir bahwa secara itung-itungan petani jaman sekarang kerja tani garap lahannya dia sendiri secara ekonomi ga cukup buat makan kan dia.


Tapi kok masih mau dijalani?

… dari situ Om baru sadar, yang kasih rejeki itu Allah ke petani-petani itu. Karena dihitung ga cukup. Faktanya mereka cukup, bisa beli rokok, bisa sekolahkan anak di kota, bisa lebaran ganti baju. Bisa semuanya…


Bukan karena mereka bertani mereka cukup buat hidup.

Karena Allah SWT mereka cukup.

Butuh waktu cukup lama untukku bisa memahami. Walau tidak jaminan tindakan-tindakanku selanjutnya bisa mengimplementasikan kesadaran ini.


I Love You


KESIMPULAN

  • 1. ALLAH yang kasih rejeki
  • 2. Kalau dulunya olahragawan, lalu berhenti olahraga; jadinya cepat gemuk
  • 3. Kerjakan saja, ada yang Maha Mencukupkan


Posting Komentar untuk "Pak Bagio | Karena Allah Jadi Cukup"