Kita Kekurangan Apa?

.

.

[ KITA KEKURANGAN APA? ] 19/06/2020


Seingatku waktu itu anak-anak sedang bermain. Bayi-bayi sedang tidur. Aku tiduran dan istriku duduk disamping. Kami kelelahan dengan rutinitas yang sama. Rumah yang berantakan dan asisten rumah tangga kami yang tidak bekerja seperti yang kami harapkan. 

Kemampuan asisten rumah tangga kami untuk menyapu hanya yang dia lihat dari posisinya berdiri. Botol-botol bayi yang sering hilang dan ditemukan istriku dikolong-kolong dengan susu busuk berhari-hari tak terbuang.

Kemampuan dia untuk selalu beralasan menidurkan bayi kami dengan bersembunyi disebuah tempat hingga dia bebas main HP sementara bayi kami bermain sendiri.

“Mbak, tidak usah dibawa kemana-mana. Disini saja sampeyan njaganya.”

Berjalan beberapa waktu. Lalu kembali seperti sedia kala. Dan kami bukan tipe pemberi tahu yang rutin.

Kami tidak tega untuk melepasnya. Kami juga tidak berani mengganti dengan orang baru yang tidak kami kenal.

Rumah berantakan. Rasa-rasanya empat anak kami berkomplot untuk bermain disetiap ruang rumah kami kecuali kamar mandi. Puas mereka. 


Kami kelelahan.

Aku juga tak cukup tega untuk meminta pertanggungjawaban istriku yang relatif lebih banyak dirumah. Dua bayi yang masih menyusui. Impain-impian lain yang dia masih ingin kejar. Ah sudahlah.

Untuk kesekian kali istriku menceritakan kondisi rumah dan anak-anak yang sebenarnya tanpa diceritakan pun aku melihat dan rasakan. Namun perempuan itu harus didengar. Walau kadang apa yang disampaikan cukup membosankan. Atau kadang benak pikirmu lagi asyik memikirkan yang lain. Memikirkan urusan pekerjaan. Memikirkan mimpi-mimpimu.

Namun kawan, sebaiknya pada saat istrimu berkisah maka dengarkan dia. Dia cuma punya kamu untuk bercerita. Atau akan perih jika dia bercerita kepada lelaki lain yang lebih mau untuk mendengarkannya. Karena dia tak pernah menemukanmu untuk mendengarkan dia. Maka sebaiknya Engkau dengarkan dia.


Selesai istriku bercerita menumpahkan perasaannya. Aku berkata :

“Kita ini kekurangan apa? Rumah kita berantakan. Betapa banyak pasangan diluar sana yang ingin rumah mereka jadi berantakan oleh anak-anak mereka. Namun mereka tak punya anak.”

“Kita ini kekurangan apa? Suatu saat mereka akan dewasa dan sibuk dengan aktifitas-aktifitas diluar. Dan kita akan rindu pada mereka. Termasuk rumah ini dibuat berantakan lagi oleh ulah mereka”

“Kita kekurangan apa? Botol hilang. Kenangannya tak pernah hilang. Asisten rumah tangga kita itu pasti kecewa karena semenjak kita pindah ke rumah ini, jangkauan bersih-bersih dia menjadi lebih luas. Tidak seperti di apartemen dulu. Biar saja. Penghasilannya sudah diatas rata-rata dan diatas rata-rata yang kita mampu bayar. Jika dia mau pergi. Tidak apa-apa”

“Kita kekurangan apa? Utang terbayar, beberapa tak mau dibayar tetap kita bayar. Mereka yang pergi tergantikan dengan yang lebih baik”

“Kita kekurangan apa? Kita punya dua jenis keluarga. Keluarga yang menjaga jarak dengan kita dan keluarga yang selalu mensupport kita. Lengkap”

“Kita kekurangan apa? Kita punya teman-teman yang masih mengingat masa lalu kita dan teman-teman baru yang sudah melihat kita menjadi lebih baik. Kita lengkap punya kritikus dan supporter. Kita punya segalanya”

“Kita kekurangan apa? Walau di rekening bukan nilai miliaran. Namun kita punya teman-teman dengan rekening miliaran yang siap bantu kita sewaktu-waktu. Dan hebatnya kita tidak butuh itu kan? Kita tidak punya kebutuhan miliaran kan?”

“Kita kekurangan apa? Kita tidak punya mobil yang longgar. Tapi sewaktu-waktu kita butuh mobil longgar ada mobil kantor yang bisa kita pinjam. Bisa ganti-ganti. Bisa pakai sama sopirnya.”


Pertanyaan :

Kehidupan apa yang engkau miliki yang engkau miliki yang sebenarnya juga ingin dimiliki atau rasakan oleh orang lain? Sebutkan 24 saja.


I Love You


KESIMPULAN

1. Kadang kehidupan yang mungkin saat ini Anda enggan menjalaninya adalah kehidupan yang didambakan oleh banyak orang lain

2. Bersyukurlah

Posting Komentar untuk "Kita Kekurangan Apa?"