Dendam | Prosaicc

.

.


[ DENDAM ]


Dulu saat ekonomi ga bagus-bagus banget, rasa sedih sering muncul. Terutama saat ku ingin bantu orang lain namun ku ga bisa bantu. 

Misal saat mertua beli mesin cuci, trus beliau pakai uangnya sendiri untuk beli dan ku cuma antar ke lokasi toko dan sebagai penonton saja. Kecut rasanya. Pura-pura ga tahu bahwa itu adalah uang terakhir sang mertua yang rencananya mau dibuat perbaiki gigi.

Diam

Malu.

Itu dulu.

Dulu waktu lihat gitar, piano, peralatan-peralatan keren, alat-alat fitness, fashion gaya, tas-tas discovery channel; benak ini berbisik : “Sebentar nanti saat duit kerja cair, aku beli kau”

Sekarang, saat semuanya menjadi mudah. Mudah terbeli. Keinginan-keinginan itu musnah. Keinginan untuk membeli ini itu. Entah dipinjam siapa keinginan-keinginan itu. 

Semoga dipinjam seseorang yang cukup baik hatinya ga pernah mau mengembalikan apa yang sudah dipinjam itu. Biar dia lupa pernah pinjam atau memang sengaja ga mau mengembalikan. Biar.

Udah jadi ga penting lagi keinginan-keinginan itu.


Keinginan-keinginan itu berganti ke memenuhi keinginan-keinginan orang tua kami (aku dan istri).

Ayahku pengen nginap dihotel yang langsung di pinggir jalan Malioboro Jogja. Done 

Impian ayah ibu dan ayah mertuaku: umroh. Udah terbayar lunas, namun tiba-tiba pandemi.

Kemaren aku sempat bergaya. 

Aku ajak ayah ibuku ke PTC-Surabaya. Traktir ke Chop kalo ga salah. Trus ajak belanja-balanja. Mamaku yang sudah bertahun-tahun tahu betapa aku berat kondisi keuangan selama ini selalu bilang :

“Yang murah-murah aja” - Urusan makanan dan bahkan baju-baju.

Aku sampaikan, “Beli aja, ayo, ambil aja, syaratnya: ga boleh lihat harga. Pokok suka, langsung ambil.”

Tetap ga mempan penyampaianku itu. Tetap mereka mikir-mikir dan menimang-nimang perihal harga. Berkali-kali kami (aku dan istriku) dekati dan berbisik : “Ambil aja kalo suka, kami lagi banyak uang”

Duh Gusti Allah. Menangis aku. Susah bener meyakinkan mereka.

Disisi yang lain aku dan istriku kehilangan hasrat untuk membeli ini itu, padahal udah cita-cita sebelumnya. Kami malah berusaha memenuhi kebutuhan dan keinginan-keinginan terpendam anggota keluarga kami. Orang-orang terdekat kami.


Seperti dendam, bahwa dulu kami bertahun ga berkutik. Ga bisa membantu ekonomi mereka secara layak. Sekarang pengen lebih, buat mereka.

Sekarang Pertanyaannya :

Sebenarnya kehilangan hasrat untuk belanja-belanji kepentingan pribadi itu ada dulu baru Tuhan memberi rejeki besar pada kami atau kami diberi rejeki dulu baru hasrat itu hilang? 

Kami lupa dan tidak memperhatikan saat keinginan-keinginan itu pergi. Mungkin dipinjam entah oleh siapa (sekali lagi) dan semoga tak pernah dia kembalikan.

Aku ingat beberapa minggu yang lalu dikamar berempat aku pijar bumi dan istriku. Kami bercanda-canda sedangkan Aska dan Alya di kamar lainnya mungkin sedang tidur. Aku melihat istriku becanda-canda dan bayi-bayi kami tertawa kegirangan.

Disaat itu aku menangis.

Aku ingat beberapa belas tahun sebelumnya. Saat utang kurasa kutanggung bermiliar dan debt collector yang rutin silaturahim ke rumah kami (rumah ortu). 

Dan aktifitasku setiap pagi keluar rumah dan pulang malam dengan sepeda motor dan sandal japit itu. Karena kerja kirim-kirim barang juga. Ayahku bilang : “Sepedanya dicuci”

Aku tak gubris. Pikiranku kebawa dirampas ke tagihan demi tagihan. Lalu ayahku memutuskan untuk kadang bersihkan sepeda motorku. Beliau perhatikan sesuatu yang tak kusadari dan beliau sampaikan :

“Itu kamu hampir setiap hari jalan diatas 100km. Kemana aja? 100km itu bisa sampai Probolinggo. Kamu ngapain aja? Hasilnya mana?”

Aku ga isa jawab apa-apa. Aku juga ga bisa menjelaskan utang-utangku waktu itu.

Dan tiba-tiba dimalam ini kami bercanda-canda diatas kasur 13 jutaan yang konon demi tulang belakang yang lebih baik kata yang jual dan sudah kena ompol dan bab beberapa kali oleh bayi-bayi kami; aku menangis dan bersyukur. Hidupku sudah jauh lebih baik saat ini.

Seingetku belum semiliar dan masih banyak utang-utang walau sudah sangat ringan dan aku tetap menangis dan bersyukur. Apa karena itu? Aku bersyukur dulu baru rejeki datang atau datang dulu baru bersyukur?

Lupa

Kalo bersyukur bisa dicintai Tuhan, dan cara untuk membuat kamu bersyukur adalah buat kamu susah dulu baru dibuat seneng mungkin itu cara Tuhan menyelamatkanmu. Benar-benar bukan kamu yang menyelamatkanmu. Benar-benar Dia yang mengambil alih hidupmu.

Pernah sih ngetest rasa sekali. Kaos ratusan ribu berbagai macam warna dengan 1 model. Coba 1 warna, ternyata enak. Lalu yang lain ambil semua kecuali warna baju yang ga suka. Ga pake tanya diskon de el el. Oiya, cuma gitu rasanya. Ya udah. Udah tahu rasanya.

Kadang kupikir membeli sesuatu itu bukan benar-benar perihal kebutuhan hidup. Namun kebutuhan untuk merasa berharga.

Harga orang kaya berapa?


I Love You 


KESIMPULAN

  • Jangan lupa bersyukur
  • Anda berjuang untuk apa dan siapa?

Posting Komentar untuk "Dendam | Prosaicc"