Berhenti Marah Apa Bisa?

.

.


[ BERHENTI MARAH BUAT ANAK ]


Waktu anak kandungku dilahirkan, tiba-tiba keinginan merokok banyakku hilang. Diambil entah siapa. Semoga ga pernah dikembalikan. Aku terkadang masih merokok, sebulan sebatang mungkin. Saat berkumpul dengan teman-teman yang sedang merokok. Dalam ruang atau diluar ruang, yang ada kopinya. Kita membicarakan sesuatu bersama. Atau lagi sama2 mainin HP masing-masing. Maklum. Ga ada hubungannya antara kita lagi ngobrol atau lagi mainin HP masing-masing yang penting rokok’an. Mereka-mereka itu.

Dengar-dengar saat ada orang yang tahu apa yang dilakukan itu tidak baik dan dia tetap melakukannya, rutin, maka orang tersebut sedang memiliki kepahitan hidup. Dan dia sampaikan atau lampiaskan kepahitannya itu dengan tetap melakukan hal yang dia sudah tahu bahwa hal itu tidak baik. 

Salah satunya: merokok.

Hal yang sama juga berlaku untuk orang yang makan berlebihan sehingga dia menggemuk. Sepertiku. Maka ada yang namanya diet yoyo. Saat semangat berat badannya turun lalu beberapa waktu kemudian dia tak mampu mempertahankan dietnya dan menggemuk lagi.

Kepahitan hidup, luka batin,

Nah saat anakku itu lahir, kepahitan hidupku tiba-tiba amblas. Ilang. Rasa syukur tumbuh besar karena anakku sehat. Sangat sehat. Anakku menyembuhkanku.

Demikian juga saat anak berikutnya lahir. Yang sebelumnya membuat semua pedihku hilang, yang selanjutnya aku jadi punya komitmen untuk berbuat sesuatu buat Bumi ini agar jadi tempat yang lebih baik untuk ditinggali.

Suatu kali kami marahan. Aku dan istriku. Di mobil. Perjalanan pulang dari Jogja. Dan singkatnya tiba-tiba anakku sakit. Muntah-muntah. Konon ada hubungan langsung antara kualitas ASI sang ibu dengan perasaan ibu.

Jadi kalo ibunya lagi bete, maka menurun ke kualitas ASI yang diminum bayinya.

Sejak itu aku berjanji untuk tidak marah. Lebih sabar. Dan memaknai lebih hal-hal yang belum pas.

Lalu bagaimana memohon pahala sabar tanpa Allah mengirimkan istrimu yang super cerewet itu?


I Love You


KESIMPULAN

1. Sabar 

Posting Komentar untuk "Berhenti Marah Apa Bisa?"