Afirmasi, Feel Good, Intuisi, atau Hitung-Hitungan?

.

.


[ AFIRMASI, RASA NYAMAN, INTUISI, ATAU HITUNG-HITUNGAN? ]


“Berapa lama bisa buat seperti itu?” tanya George

“3 bulan” jawabku aku menduga-duga. Karena aku kemaren mengerjakannya cuma 2 minggu sebenarnya. Jadi jaga-jaga saja. 

Apa coba yang dijaga? Waktu? Siapa yang bisa jamin kemampuan mengerjakan 2 minggu dicadangkan 10 minggu sisanya bisa selesai ‘tepat waktu?’. 

“Aku juga mau seperti itu, berapa biayanya?” (seperti harapku dia pun bertanya seperti itu)

“20 juta” jawabku

“Oke buatkan seperti itu, pakai kata … (rahasia)”

“Boleh, Pak George ingin dikenal sebagai apa? Siapa?”

“Aku ingin ketika orang bahas produk kecantikan dan kesehatan, namaku… (mereka tahu)”

“Pokok jangan bilang orang-orang harga produksi segitu, bolehlah” kataku

“Iyalah, jangan khawatir, aku tahu kalau itu; nanti waktu berhasil aku mau jualan, hasil kita bagi dua”

“Boleh”

Aku punya kemampuan ngotak-atik google. Hari itu aku tunjukkan karyaku. Dan beliau tertarik. Ada kebutuhan Rp 890 jutaan buat bayar rumah. Rumah di Royal Residence pilihan istriku waktu hamil Pijar. Waktu itu entah mengapa saat usia kandungan 7-8 bulan tiba-tiba dia ngidam untuk gabung jadi agen properti propnex. Setelah kisaran 2-3 bulan ga bisa jual-jual properti barang sebiji pun, akhirnya dia berinisiatif untuk membeli sendiri propertinya. Alhasil sekarang sang suami bekerja extra. Belajar lagi online, dan jualan skill.

Syukur-syukur bisa bayar rumah itu ga pakai bank. Harapannya. Dari dulu. Sepertinya kalau sudah mau lunas DP-nya kali ini, harapan itu kandas.

Biar.

Kalau kebutuhan segituan kira-kira butuh 50 klien yang masing-masing bayar Rp 50 juta. Wik! Aku hebat.

Biar.

Yang pusing bukan aku. Yang pusing marketing. Marketingnya siapa? Ya aku sendiri, wek :p

“Pak, aku lihat Bapak hampir semua yang Bapak mau berhasil tercapai. Boleh aku belajar? Gimana caranya?” tanyaku

Dia tertawa. Aku menunggu.

“Semua yang aku harapkan semua terjadi” katanya sumringah

“Gimana caranya” penasaranku

“Ya aku lihat berhasil” jawabnya

“Itu afirmasi? Atau intuisi? Itu feel good? Itu itung-itungan?” berondongku

Badan Pak George surut ke belakang mikir lalu bertanya, “Apa itu bedanya afirmasi, intuisi?”

“Ya kalo afirmasi dibayangin terus-terusan, intuisi tiba-tiba feel good aja, yakin bakal tercapai” kira-kira jawabku

“Ya afirmasi ya intuisi. Gini loh. Aku ini ga suka zona nyaman. Jadi kalau aku ada projek dan itu sudah di setting, aku langsung mikir yang lain. Kenapa? Karena itu aku sudah yakin bakal bisa jalan. Seperti dulu waktu aku SMA, aku belum bisa beli alat pemutar video, aku beli dulu kasetnya. Kantor ini pun dulu waktu belum bisa aku pakai buat apa, sudah sering aku lewati dan sudah kebayang bakal banyak PT (banyak usaha maksudnya). Didepan itu sudah aku bayangkan banyak mobil sport usaha teman-temanku”

Aku diam, merangkai-rangkai benang merah pemikiran. Ini orang terkaya selanjutnya yang masuk daftar list pertemananku untuk aku belajar. Iya, kata mereka aku baca di buku-buku disarankan kita sering-sering kumpul sama orang kaya kalau mau ‘ketularan’ kaya. Kaya dalam arti beneran. Maksudku bukan sekedar akumulasi uang cash-nya. Beberapa orang uangnya banyak, tapi kelakuannya miskin.

“Pak George, istri saya itu kuat vibrasinya. Setiap jalan sama dia ke Mall yang terkenal parkirannya penuh, kami tidak pernah kesulitan mendapatkan parkiran. Pernah ada rumah bagus didepan sekolah anak kami. Dia afirmasi supaya rumah itu segera dijual. Dan beneran ga sampai 6 bulan rumah itu dijual. Ada tulisan didepan pagar rumah tersebut ‘dijual’ berikut dengan nomor hp kontaknya. Tapi masalahnya kami lupa mengafirmasi untuk memiliki rumah itu. Jadi beneran rumah itu dijual, namun kami tidak mampu membelinya (pada saat itu)” kataku

Kami tertawa

Kami (aku dan istriku) punya sepasang sahabat yang juga sepasang suami istri. Namanya Okta + Nita. Mereka hipnoterapis, kira-kira begitu. Banyak orang datang ke mereka untuk berkonsultasi, urusan rumah tangga, mental blok, dan sejenis. Mereka hidup dari situ, ya mereka dibayar untuk jasa mereka itu.

Dalam rangka kami (aku dan istriku) meningkatkan cash in, kami sering mengasah diri kami melalui buku-buku, video, kelas-kelas offline dan online, dan konsultasi ke beberapa pakar yang beberapa dari mereka kami panggil atau ajak langsung ke rumah.

Nah, istriku ikut kelas money maker sedot rejeki booster bla bla…; dia bilang dia lihat dan sentuh gambar mobil Nissan Serena itu sambil terisak begitu. Wow, penghayatan! Dia ga feel something kalau afirmasi properti, afirmasinya ke mobil-mobil. Feel goodnya dia disitu.

Aku mikir, kalau banyak mobil, garasi ga ada, gimana caranya harus besarin rumah. Kan juga sebaiknya harus ada uang cash gitu, buat bensin, de el el. Logika jalannya gitu.

Trus aku bilang, “Ya sudah bayangin aja dapat 100 mobil Serena Nissan itu, terus kamu pake 1, sisanya dijual (buat rumah dan uang cash”

Eh, dia langsung down.

Apa yang salah ya?

Ternyata kata Okta + Nita itu salah. Ngajak ribut kalo bilang 99 mobilnya dijual. Feel goodnya jadi ilang. 

“Ya sudah disewakan 99 mobil serena nissan-nya kataku. Tetap jadi milik” Kataku

“Ya tetep salah!!” kata Okta. “Ini kan masih dalam bayangan, udah biar aja feel goodnya jalan. Kalian ini butuh feel goodnya, ga usah dijual-jual!”

“Kalo mobilmu banyak, rejeki untuk yang lain-lain akan mengikuti, tenang aja” kata Nita

Ya wes lah

Kadang terlalu logis itu ga kekejar cepat targetnya.

Jadi gini kesimpulan sementara kami :

Inget hal-hal yang buat kami feel good

Ambil rasa feel good-nya

Bawa ke pencapaian yang kamu ingin capai

Ya udah gitu aja.

Ini ilmu mahal, banyak orang bayar belasan juta buat konsul beginian, wkwkwkwk.

Udah sana praktek gih 


I Love Yo


KESIMPULAN

1. Feel good itu perlu

2. Banyangkan segala sesuatu yang buat Anda feel good

3. Feel good tanpa syarat

4. Ga usah mikir masuk akalnya, pokok feel good dulu

Posting Komentar untuk "Afirmasi, Feel Good, Intuisi, atau Hitung-Hitungan?"